
Gedung Radio Prima FM yang hancur setelah tsunami 26 Desember 2004
Radio Prima FM berlokasi di
kota Banda Aceh, ibukota
provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Didirikan pada tahun 1996 oleh
Ir. Teuku Irwan Djohan, dan
baru diresmikan pada tanggal 14
Februari 1998 dengan struktur manajemen pertama kalinya dipegang
langsung oleh Ir. Teuku Irwan Djohan
sebagai Direktur Utama merangkap General Manager, Iskandarsyah (Marketing Manager), Abdul Qudus (Program Manager), dan Romi Saro (Finance Manager).
Sejarah Radio Prima FM sebetulnya diawali dari tahun 1970. Ketika itu masih bernama Radio Expo70 yang didirikan oleh Alm. Abdani.
Saat itu, Radio Expo70 yang mengudara di frekuensi AM, termasuk sangat populer di era 70an dan 80an. Terutama di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan semakin ketatnya persaingan di bisnis media, terutama setelah lahirnya era televisi swasta, Radio Expo70 mengalami kemunduran.
Kemudian di awal tahun 90an, radio ini berganti nama menjadi Radio Karima 70, menyusul peraturan pemerintah yang melarang penggunaan nama-nama berbahasa asing, namun masih dengan segmen pendengar menengah ke bawah, dengan mengandalkan program acara musik pilihan pendengar dan sandiwara radio.
Akan tetapi, bermunculannya banyak radio baru, serta porsi iklan yang semakin besar disedot oleh televisi swasta, kondisi radio ini semakin memprihatinkan. Akhirnya di tahun 1995, Alm. Abdani memutuskan untuk menjual radio yang dikelola bersama keluarganya ini.
Awal tahun 1996, Ir. Teuku Irwan Djohan membeli izin siaran milik Radio Karima 70 dari Alm. Abdani, dan mengganti namanya menjadi Radio Prima serta berencana memindahkan siarannya ke frekuensi FM.
Setelah hampir dua tahun melakukan ujicoba siaran di frekuensi AM sambil membangun gedung dan mempersiapkan berbagai peralatan baru untuk standar FM, akhirnya di awal tahun 1998 Radio Prima memulai siarannya di frekuensi FM, dan pada tanggal 14 Februari 1998 diresmikan oleh Alm. Mayjen TNI H Teuku Djohan (Komisaris Utama saat itu) yang juga orangtua dari Ir. Teuku Irwan Djohan.
Sejak awal mengudara, Radio Prima FM yang digagas oleh Ir. Teuku Irwan Djohan telah mengusung format berita dan informasi. Sebuah format yang sama sekali baru untuk radio swasta di Aceh ketika itu. Sehingga radio ini sempat menggunakan slogan “The New Concept Radio” dengan mengacu pada format baru yang diusungnya, serta slogan “Special Station for Special Community” yang mengacu pada komunitas pendengarnya yang berasal dari kalangan khusus yang lebih mengutamakan informasi daripada hiburan.
Dengan format sebagai radio berita yang pertama di Aceh, kehadiran Radio Prima FM di awal tahun 1998 tersebut, awalnya mendapat respon yang biasa-biasa saja, karena memang radio berita masih belum populer ketika itu.
Namun munculnya gerakan reformasi yang dipelopori kalangan mahasiswa di seluruh Indonesia, serta disusul dengan jatuhnya Presiden Soeharto dan kekuasaan Orde Baru, maka Radio Prima FM tiba-tiba menjadi salah satu sumber informasi yang sangat penting bagi masyarakat, khususnya di kota Banda Aceh.
Berbagai acara talkshow yang menghadirkan para tokoh reformasi dari berbagai kelompok, seperti mahasiswa, partai politik, LSM, termasuk para pejabat di Aceh saat itu, menjadi sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
Sejak reformasi bergulir, berbagai perubahan dalam dinamika politik nasional dan lokal terus terjadi. Termasuk kembali munculnya kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang di masa kepemimpinan Presiden Soeharto ditekan habis-habisan.
Dinamika sosial dan
politik yang
terjadi sepanjang tahun 1998
dan seterusnya, menjadi menu utama siaran Radio Prima FM, terlebih lagi
setelah radio ini menjadi mitra dari BBC London (yang kedua di Indonesia setelah Radio Elshinta Jakarta), maka radio
ini semakin menjadi sumber berita utama bagi masyarakat kota Banda Aceh dan sekitarnya, disamping
sebuah suratkabar lokal saat itu, Serambi
Indonesia.
Di akhir tahun 2004, yaitu pada tanggal 26 Desember, saat sebagian
besar wilayah provinsi Aceh dilanda bencana gempa bumi dan tsunami. Radio Prima FM mengalami kehancuran
total. Gedung berlantai tiga milik Radio
Prima FM yang berlokasi di Jl.
KH Ahmad Dahlan No. 2 Banda
Aceh hancur dan roboh rata dengan tanah, akibat gempa bumi
berkekuatan 8,9 skala
richter, sekitar 30 menit
sebelum gelombang tsunami datang.
Namun enam orang kru
yang sedang
bertugas di hari Minggu pagi itu berhasil menyelamatkan diri keluar
sebelum gedung tersebut runtuh. Dan saat mereka mencoba menyelamatkan
beberapa barang yang tersisa dari puing-puing, air laut dengan
ketinggian tujuh meter lebih datang dengan kecepatan tinggi dan
menghancurkan segala yang ada.
Akan tetapi syukurlah,
keenam kru Radio Prima FM yang
masih berada di sekitar reruntuhan berhasil menyelamatkan diri dari
kejaran gelombang tsunami. Namun Radio
Prima FM tetap kehilangan tiga orang kru-nya akibat bencana
dahsyat tersebut, yang meninggal dunia di kediaman mereka masing-masing.
Setelah bencana yang
sangat bersejarah itu terjadi, praktis Radio
Prima FM berhenti mengudara. Selain karena ketiadaan gedung dan
peralatan, seluruh kru juga masih dalam suasana berkabung, dan masih
menyelamatkan diri bersama keluarganya masing-masing.
Sampai saat ini Radio Prima FM masih tetap konsisten mengusung format berita, meskipun sejak reformasi bergulir, banyak stasiun radio swasta di Indonesia (termasuk di Aceh), yang juga mulai menampilkan program-program berita. Hal tersebut sebelumnya tidak pernah terjadi di masa sebelum reformasi.
Radio Prima FM saat ini mengudara di frekuensi 104.4 MHz, dengan luas jangkauan mencapai empat daerah di Aceh, yaitu kota Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang dan Pidie.
Para pimpinan Radio Prima FM sejak berdiri hingga saat ini:
Teuku Irwan
Djohan
(Direktur Utama, 1998 - sampai sekarang)
Muhammad
Ilham Maulana
(General Manager, 1999 - 2000)
Righayatsyah
(General Manager, 2000 - 2005)
British Broadcasting
Corporation (BBC)
London - Inggris
Australian
Broadcasting
Corporation (ABC)
Melbourne - Australia
Deutsche Welle (DW)
Bonn - Jerman
Kantor Berita Radio 68H
(KBR68H)
Jakarta - Indonesia